Sakit lebih menyembuhkan

Huah.. setelah cukup lama berkutat dengan kepanitiaan ospek Mahasiswa baru dan kemah bakti, akhirnya bisa ngupdate blog lagi. Lagipula pas habis paket juga sih kemarin😐 . Udah semester tua gini sebenarnya udah pengen menarik diri dari hal-hal begini, tapi entah kenapa jadi selalu “terseret”. Udah jadi kayak hobi ya mau gimana lagi?. Well, satu minggu yang menyenangkan bersama para junior dan mahasiswa baru berhasil menjadi bahan catatan kecil penghuni blog ini, uniknya pelajaran paling berharga justru lahir setelah seluruh kegiatan berakhir.

Sejak awal kegiatan Ospek tahun ini gue memang agak menahan diri untuk terlibat terlalu banyak, pengennya ngasih kesempatan ke mahasiswa semester yang lebih muda, tapi sayang sikap gue gak diikuti anak2 semester angkatan gue lainnya dan sebagian angkatan di atas gue, lagi2 ada intervensi yang bikin adik2 ini gak leluasa bertindak. 3 hari ospek gue selalu nongol sore hari, terutama di sesi “spesialis” gue yaitu sesi muhasabah, udah setahunan gak ngisi muhasabah tapi alhamdulillah sore itu kata2 gue masih ngena dan bikin orang2 nangis. Gue selalu gak ingin sesi muhasabah hanya jadi tangisan2 sesa’at, gue selalu meminta follow-up dari peserta muhasabah agar tangisan itu dijadikan tekad kuat untuk menjadi lebih baik, ironisnya saat gue meminta dan mengingatkan akan follow up itu di lain kesempatan bertemu, banyak mereka yang lupa, lebih parah lagi banyak yang gak tau kalau sesi nangis2 itu adalah sesi muhasabah -__-”

Untuk kemah bakti, gue mau gak mau harus turun langsung sebagai ketua panitia, karena angkatan kamilah yang terakhir ngerasain kemah bakti ini. Alhamdulillah semua berjalan lancar juga, tidak ada hal2 seekstrim saat kami kemah dulu. Gak sia-sia anak semester tua seperti gue turun tangan langsung, tapi itu gak lepas juga dari kinerja adik2 kelas gue yang sangat ulet dan rasa kekeluargaannya yang besar.

Kemah bakti tahun ini tak ubahnya traveling bagi senior seperti kami, kebanyakan pekerjaan tinggal suruh junior dan kami bersantai di pinggir sungai (hahay) tapi harus terbayar mahal juga akhirnya saat tiba di rumah, Gue kena diare yg lumayan parah dicampur sakit maag yang makin maknyus. Sakit itu bener2 bikin gue lemes, sakin lemesnya gue sampai2 udah mulai ngebayangin akhirat. Di sini pelajaran yang paling berharga gue petik, pelajaran seperti tentang pentingnya bersyukur atas nikmat sehat, pelajaran akan kematian yang dapat datang kapan saja dan pelajaran untuk senantiasa meningkatkan kualitas dan kuantitas ibadah. Sungguh rasa sakit yang senantiasa mengingatkan kepada Allah seperti ini jauh jauh lebih baik ketimbang tubuh sehat wal afiat namun melalaikan dari mengingat Allah. “Sakit lebih menyembuhkan (hati) daripada sehat yang lalai”

Oh ya satu lagi cerita gue di minggu itu, TransMetro. Selalu menyenangkan naik bus ini di waktu senggang, jadi bisa nyambil napak tilas jaman sekolah, bertemu dengan banyak orang, keliling2 kota Pekanbaru dengan cara berbeda dan tentunya sambil beramal. “Alhamdulillah” hanya kata itu yang dapat terucap, semoga kegiatan ini kedepannya lebih baik dan kini saatnya kembali fokus ke kuliah dan LDK UMRI B-)

Posted from WordPress for BlackBerry.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s