Dahaga ditepi telaga

Wajah benci itu menatap tajam. kesal, kecewa, muak bercampur dalam tiap-tiap iris matanya. “Apa gunamu di sini? Kau tak pernah bisa berbuat sesuatu yang berguna!!” Bentaknya pada cermin kusam yang ditatapnya sejak tadi.

Langit semakin kelam, pertanda pergantian hari kembali. Lagi-lagi waktu tak mengenal kompromi, ia telan setiap kesempatan-kesempatan yang dilewatkan insan yang lalai untuk memperbaiki diri. Kumandang adzan maghrib memanggil memalingkan mata kesal itu dari tatapan tajamnya yang tak berkedip sejak tadi. Segera ia meraih sarung dan peci kesayangannya. Berjalan ia menuju pintu rumah, tampak tatapan dari ayah dan ibunya yang biasa namun menyimpan rasa bangga atas ketaatan anaknya, namun tatapan itu dibalas dengan tatapan yang juga biasa namun menyimpan sejuta kekecewaan, kekecewaan atas ungkapan-ungkapan rasa cinta mereka yang dirasakan banyak yang salah dan menghambat perkembangan diri.

Adzan maghrib masih belum selesai, ia mulai berjalan setengah berlari, mengejar waktu shalat rawatib yang tak banyak dilaksanakan mesjid lain. Dipandangnya lagi sekelilingnya, terlihat pemuda-pemudi masih bersantai seakan tuli pada panggilan suci. Namun ia justru menatap iri. Ya, mereka dengan segala “dosa-dosanya” justru dapat lebih berguna, banyak hal yang dilakukannya untuk masyarakat, hablum minan naas mereka jauh lebih baik. Namun ia, meskipun dengan hablum minallah, lebih banyak berpangku tangan, berkutat dengan ritual-ritual yang tak kunjung diaplikasikannya ke masyarakat. Padahal banyak orang-orang yang lebih taat dan lebih banyak melakukan ibadah ritual, namun mereka tetap mampu menjadi berguna bagi masyarakat, dan memang seharusnya begitulah ketaatan.

Pandangan iri sekilas sambil setengah berlari. Namun tanpa ia sadari, satu-dua anak selalu membuntutinya dari belakang, mengikuti jejak-jejaknya menuju rumah Ilahi, bahkan satu dua pemuda pun ikut pula mengikutinya. Tak ada senyum sapa meski mereka yang mengikuti itu tampak sekali kagum padanya, mungkin mereka menunggu senyum sapa lebih dulu dari sang teladan. Sadar akan kehadiran mereka tak lantas membuat ia sedikit terhibur, muncul makian lagi “lihat mereka, potensi-potensi jundi Allah! Tak mampukah kau merangkul? Lihat anak-anak didikan imam itu, begitu potensial, tak mampukah kau merangkul? Begitukah kau mengkhianati amanah ilmu organisasi yang Allah titipkan padamu? Begitukah ilmu Agama kau aplikasikan? Tidakkah kau merasa menjadi orang munafik karena khianatmu?”

Ia mulai tertunduk lesu, langkahnya mulai pelan. Dan pun ia tersadar pula bahwa Rasul berpesan agar tak terburu-buru menuju mesjid, yang berarti seharusnya ia harus menuju mesjid lebih awal.

Khusyuk didengarnya lantunan ayat suci sang imam, namun kadang terpeleset jua kekhusyukannya karena fikiran atas makian-makian pada dirinya sendiri. Pada sujud terakhir diadukannya semua gundahnya, juga pada akhir dzikir dan akhir shalat sunnahnya.

Malam telah pekat di luar mesjid, ia berjalan keluar, ditatapnya langit nan penuh bintang dengan kagum, kagum pada Sang Penciptanya Yang Maha Esa. Tiba-tiba sekelilingnya menjadi putih, datang seseorang yang tampak masih cukup muda menepuk pundaknya dan berujar “jangan terlalu keras pada dirimu, memaki diri takkan ada gunanya, jadikan ia bahan muhasabah dan pembakar motivasi untuk bertindak dengan lebih baik.” Terkejut ia mendengar perkataan orang itu, mengapa dia tau begitu banyak tentang diriku? Namun apa yang dikatakan pemuda itu tetap tak berarti begitu banyak baginya, Ia sudah terlalu sering mendengar kata-kata motivasi seperti itu. Orang muda itu tersenyum, semakin lebar senyumnya semakin mirip dengan murabbinya yang dulu, murabbi yang paling lama membinanya dibanding murabbi-murabbinya yang lain.

Matanya terbuka, terbelalak karena terkejut. tiba-tiba ada banyak orang di sekelilingnya, tubuhnya terkulai lemah di tempat tidur, dipegangnya kepalanya yang terasa nyeri, Kepalanya rupanya telah diperban. Ternyata ia baru sadar setelah lama tak sadarkan diri akibat kecelakaan, ia ditabrak mobil saat pulang dari mesjid, seorang gadis jelita berkerudung panjang yang melihatnya pertama kali hingga berteriak meminta tolong kepada jama’ah mesjid lainnya.

Ia beruntung telah tersadar, sehingga dapat meraih kesempatan kedua, sebuah kesempatan yang tidak boleh disia-siakan untuk meraup bekal lebih banyak menuju akhirat dan kesempatan melepas rasa munafik yang ia rasakan dalam dirinya. Kemudian datang uluran tangan dari seorang pemuda, rupanya pemuda itu adalah pemuda yang sering mengutinya sholat fardhu ke mesjid . Pemuda itu berujar dengan senyuman “Bangkitlah, bersama kita bangun umat ini!”

Posted from WordPress for BlackBerry.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s