kisah sederhana di pantai Sepahat

Ramadhan tahun ini terasa sangat-sangat berbeda. betapa tidak, untuk pertama kali harus berpuasa tidak bersama-sama keluarga, jauh dari hiruk-pikuk kota dan hidup dengan sangat sederhana di sebuah desa. Ketika banyak keluhan terdengar dari lisan teman-teman, namun dalam hati ini justru terasa sebuah kegembiraan yang luar biasa, sebuah pengalaman baru yang sangat diharapkan dapat membantu perubahan hidup menjadi lebih baik.

Sepahat, sebuah desa yang terdengar sangat Melayu. Terletak di tepi daratan Riau dan dipisahkan oleh sebuah selat dengan pulau Bengkalis yang menjadi ibukota kabupaten. Kami akan tinggal di desa ini selama satu bulan, yang sebagian besar waktunya akan masuk kedalam bulan suci Ramadhan.

Matahari perlahan turun dari singgasananya, memancarkan cahaya jingga yang menjadi pelita kami petang itu. Barang-barang tlah diturunkan dari bus kampus yang mengantar kami, berpindah kedalam rumah besar tak berpenghuni di tengah rawa nan gelap. Malam tlah hadir memadamkan sang pelita jingga. selepas shalat maghrib, tak ada hal lain yang terlintas di fikiran kami selain mengisi perut yang telah berdendang sejak tadi. Kami putuskan untuk mencari kayu bakar malam itu karena tak ada minyak tanah yang kami bawa untuk mengisi kompor kecil kelompok kami. Beberapa bungkus mie instan lahap kami makan malam itu meski bau asap terasa bercampur kedalam makanan kami. Sebuah moment kebersamaan pertama di lokasi KKN.

Keangkeran lokasi, kesulitan air dan listrik dan jauhnya tempat shalat telah kami hadapi di beberapa hari awal. Syukurlah pihak desa memindahkan kami ke tempat yang lebih kondusif dengan air dan listrik yang aman dan yang paling penting, lebih dekat dengan pantai Sepahat.

Di pantai yang ramai oleh kepiting dan umang-umang di siang hari dan berkelap-kelip oleh kunang-kunang di malam hari ini kami melepas penat setiap harinya. Susah, senang, benci, rindu kami curahkan di sini. Deru ombak dan kencangnya angin seakan mengusir segala kegalauan. Berbuka puasa terasa indah ditepi pantai walau hanya ditemani gorengan dan teh manis.

Banyaknya kegiatan menjadikan hari-hari kami disana tak terasa. Merenovasi mushalla, menggelar pesantren kilat, gotong royong desa, hingga membantu membuat lampu colok selepas shalat tarawih dan tadarus. Merenovasi Mushalla Fatimah sangat istimewa bagi saya pribadi, karena entah berapa lama sudah saya tidak melihat mushalla atau surau dari kayu yang sangat sederhana seperti itu, dahulu waktu kecil saya hanya dapat melihat dari jauh surau-surau kayu di desa tempat nenek saya, yang kini surau-surau seperti itu tak dapat ditemukan lagi di desa tempat nenek saya.

Renovasi selesai, pesantren kilatpun telah mengadakan perpisahan. Malam harinya sebelum berangkat kami selesaikan pembuatan lampu colok nan megah itu, sayang kami tak sempat melihat langsung ketika lampu colok itu dinyalakan. Karena lampu itu baru akan dinyalakan pada malam ke 27 Ramadhan, yaitu sekitar empat hari setelah kami meninggalkan desa.

Ada sedikit rasa sesal dalam diri ini karena merasa ada pekerjaan yang belum selesai kami kerjakan, meski terlihat rencana kami telah usai seluruhnya, namun ada tanggung jawab moral dalam diri ini yang ingin membimbing anak-anak di sana terutama murid pesantren kilat kami untuk lebih dekat pada agama. Juga para pemuda-pemudi di sana agar lebih terampil. Seringkali program KKN hanya melakukan pembangunan fisik saja, padahal menurut saya yang lebih penting adalah membangun masyarakat dan terutama pemudanya agar lebih aktif membangun desanya dan lebih kuat mempertahankan agama dan adatnya agar siap menahan perubahan zaman yang sarat perusakan moral dan westernisasi.

Bus kampus telah tiba menjemput, Ali bersama keluarganya turut mengantar kami menuju Bus, tak ketinggalan rekan-rekan KKN dari STAI Bengkalis turut melepas kepergian kami. Suasana haru perlahan merebak, membayangkan entah kapan dapat berjumpa mereka kembali menjadikan dada ini terasa sesak. Deru ombak, kunang-kunang dan suasana berbuka di pantai Sepahat, kelak akan sangat-sangat saya rindukan.

Sampai berjumpa lagi Sepahat.. :’)

Posted from WordPress for BlackBerry.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s