Cadar itu memudahkan

Assalamualaikum warahmatullahi wabarokatu..

Kembali di jum’ah mubarrak ini saya tergelitik untuk menulis sesuatu. Kali ini tentang sesuatu yang “sudah lumrah tapi masih dirasa janggal”

Kurang lebih pasca orde baru atau saat memasuki era reformasi, masyarakat Indonesia lepas dari rezim yang represif, pengajian yang bersifat sembunyi-sembunyi kini dapat dilakukan dengan lebih terbuka. Bebasnya melakukan pengajian tentu berdampak baik bagi pendalaman pengetahuan agama umat (meski ada pula dampak negatif seperti penyebaran ajaran sesat yg juga menjadi bebas). Seiring dengan pengetahuan agama ini mulailah umat menerapkan syariat agama dengan lebih baik. Termasuk dari segi pakaian.

Belakangan hampir di setiap tempat kita dapat menemukan wanita bercadar dan lelaki bercelana gantung. Semakin lama menjadi semakin terbiasa meski ada juga yang masih melihat dengan risih. Ada yang menyebut “mereka lebay”, ada yang menyebut “ekstrim” dan ada yang menyebut mereka sesat, namun yang paling menggelitik saya adalah sebutan “mereka itu islam murni, tidak boleh diikuti!” (Berarti islam yang tidak murni alias sudah terkontaminasi atau sudah bergeser dari aslinya tidak boleh diikuti? Euleuh-euleuh -_-” )

Memang perintah cadar tidak tercantum secara jelas dalam alqur’an, namun jika kita melihat dari dalil-dalil seperti:

“Katakanlah (ya Muhammad) kepada laki-laki yang beriman: ‘Hendaklah mereka menahan sebagian pandangan mata mereka dan memelihara kemaluan mereka, yang demikian itu lebih suci bagi mereka. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang mereka perbuat.’ Dan katakanlah kepada wanita-wanita yang beriman: ‘Hendaklah mereka menahan sebagian pandangan mata mereka dan memelihara kemaluan mereka…’.” (An-Nur: 30-31)

“Aku pernah bertanya kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam tentang pandangan yang tiba-tiba (tanpa sengaja), maka beliau memerintahkan aku untuk memalingkan pandanganku.” (HR. Muslim no. 5609)

“Sesungguhnya Allah menetapkan atas anak Adam bagiannya dari zina[2], dia akan mendapatkannya, tidak bisa terhindarkan. Maka zinanya mata dengan memandang (yang haram), dan zinanya lisan dengan berbicara. Sementara jiwa itu berangan-angan dan berkeinginan, sedangkan kemaluan yang membenarkan semua itu atau mendustakannya.” (HR. Al-Bukhari no. 6243 dan Muslim no. 2657)

Dalam lafadz lain disebutkan:

“Ditetapkan atas anak Adam bagiannya dari zina, akan diperoleh hal itu, tidak bisa terhindarkan. Kedua mata itu berzina dan zinanya dengan memandang (yang haram). Kedua telinga itu berzina dan zinanya dengan mendengarkan (yang haram). Lisan itu berzina dan zinanya dengan berbicara (yang diharamkan). Tangan itu berzina dan zinanya dengan memegang. Kaki itu berzina dan zinanya dengan melangkah (kepada apa yang diharamkan). Sementara hati itu berkeinginan dan berangan-angan, sedangkan kemaluan yang membenarkan semua itu atau mendustakannya.” (HR. Muslim no. 2657)

Memandang wanita yang haram dianggap zina, karena seorang lelaki merasakan kenikmatan tatkala melihat keindahan si wanita. Hal ini akan menumbuhkan sebuah “rasa” di hati si lelaki, sehingga hatinya pun terpaut dan pada akhirnya mendorongnya untuk melakukan perbuatan keji dengan si wanita. Tentunya kita maklumi adanya saling pandang antara lawan jenis bisa terjadi karena adanya ikhtilath antara lawan jenis. Ikhtilath pun dilarang karena akan berujung kepada kejelekan.

Sebagian kaum moderat akan menilai “menundukkan pandangan” sebagai menghindari pandangan dengan nafsu, kaum fundamental akan menilai dengan berusaha untuk tidak memandang sama sekali. Pertanyaannya adalah apakah kita mampu menghilangkan nafsu saat memandang lawan jenis? Dan apakah kita mampu berkomunikasi tanpa melihat lawan jenis?. Pada pertanyaan pertama tentu kita akan mengatakan “ya kita mampu”, namun jika dihadapkan dengan wanita yang menarik, apa kita akan menjawab dengan jawaban yang sama? Sementara banyak sekali wanita yang menarik di dunia ini, menarik bukan hanya berati cantik. Sementara telah jelas lelaki diciptakan memiliki kecenderungan pada wanita.

“Tidaklah aku meninggalkan fitnah (ujian) sepeninggalku yang lebih berbahaya bagi lelaki daripada fitnah wanita.” (HR. Al-Bukhari no. 5096 dan Muslim no. 6880)

Kemudian untuk pertanyaan kedua tadi sebagian orang juga akan mengatakan “bisa” dan ada juga yang mengatakan “sulit, komunikasi efektif adalah dengan kontak mata”.

Pandangan mata selalu tersimpan dalam memory otak kita, tak terkecuali pandangan pada lawan jenis. Meski pada pandangan itu kita tidak menggunakan nafsu, sebagai lelaki, pandangan yang tersimpan ini ada saatnya akan diolah menjadi bahan fantasi fikiran, terutama jika wanita yang dipandang dianggap menarik. Hal ini tidak dapat dinafikan lagi, karena ia terjadi secara biologis. Dan seperti yang disampaikan dalam hadits di atas, semua itu akan berakhir di kemaluan, apakah dibenarkan atau tidak, apakah dibenarkan dengan onani atau perzinahan bahkan pemerkosaan. Maka sudah sewajarnya Allah azza wa jalla membatasi kontak dengan lawan jenis, demi menjaga kita dari kemurkaannya.

Dan kemudian bagaimanakah dengan kendala komunikasi? Menjawab hal ini kita bisa kembali ke awal bahasan kita, CADAR! Ya, itulah solusinya. Cadar memang tidak diperintahkan secara eksplisit namun jika kita memahami dan mematuhi semua dalil-dalil yang saya sampaikan di atas kita akan merasakan bahwa cadar ini relevan sebagai solusi. Dengan cadar kita tidak akan mendapatkan gambaran yang jelas pada sosok seorang wanita sehingga tidak cukup untuk disimpan memory sebagai bahan fantasi, dengan cadar kita tidak perlu bekomunikasi sambil menunduk atau membuang pandangan pada sosok seorang wanita (meski ada kalanya tetap diperlukan meski sang wanita telah berhijab “full”, tergantung kondisi iman dan nafsu si lelaki).

Dengan ini sampailah kita kepada judul artikel ini “cadar itu memudahkan” bahkan bagi wanita, ini juga memudahkannya menjaga diri, menjaga sifatnya, menjaga dari jilatan api neraka, memudahkan suaminya
untuk percaya padanya, menjaga suaminya agar terhindar menjadi ad-dayyuts.

Meski begitu cadar bagi saya bukan hal mutlak. Setidaknya sang wanita harus memakai hijab standar alqur’an terlebih dahulu yaitu jilbab hingga ke dada dan pakaian yang tidak menunjukkan lekuk tubuh dan tidak memakai wewangian saat keluar rumah dan yang terpenting hindari bercampur baur dengan lawan jenis (ikhtilat), Dengan syarat standar ini, wanita hanya cukup menjaga sikapnya dan cara bicaranya saja, insyaAllah akan terhindar dari zina.
Dalm hal ini kita perlu lebih kuat dari pada mereka yang bercadar, karena godaan nafsu akan lebih kuat dibading mereka yang bercadar yang kuatnya lebih dibutuhkan dalam menghadapi cobaan berupa tanggapan dari masyarakat.

kemudian solusi lainnya adalah dengan meminimalisir frekuensi keluar rumah, keluar rumah seperlunya saja, jangan pulang malam hari, jangan bepergian jauh tanpa teman (hal ini juga perlu dilakukan wanita bercadar karena ini perintah rasul, tapi ini juga bisa dijadikan alternatif bagi wanita tak bercadar)

Hal yang sulit mengindari ikhtilat dan saling pandang memang, karena negara dan masyarakat kita belum menerapkan hukum islam sepenuhnya. Setidaknya kita bisa berusaha dengan menerapkan syariat itu pada diri kita dan orang-orang terdekat terlebih dahulu. Semoga Allah mengampuni kita dan menjaga keistiqomahan kita.

Wallahu ‘alam bishawab

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s