Preview buku “Penjaga Jalan Ke Mesjid” [meniru si HItam]

 Karena Sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan,

Sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan.

(QS Al- Insyirah : 5-6)

 

 Meniru si Hitam

             Pagi yang indah ditemani siul-siul ceria dari burung yang telah siap mencari rezekinya pagi ini. Ini adalah hari yang special karena hari ini adalah hari sab’tu. Di hari sab’tu ini para siswa akan bertemu kembali dengan mentor Rohisnya. Tanpa mengurangi niat utamanya untuk pergi belajar ke sekolah, beberapa siswa bahkan sudah menyiapkan pertanyaan yang mengganjal di fikirannya untuk disampaikan pada sang mentor.

                Jarum jam menunjuk ke angka sebelas, bel tanda pulang sekolahpun berbunyi, para siswa mengucapkan Alhamdulillah sebagai raya syukur atas ilmu yang didapatkan hari ini. Sebagian besar siswa langsung pulang. Namun siswa-siswa yang mengikuti ekstrakulikuler rohis justru sedang bersiap-siap menuju mushalla sekolah untuk mengikuti kajian mingguan.

                Kajian minggu ini dibuka oleh Ahmad dengan mempersilahkan lebih dahulu kepada teman-teman untuk membaca Alqur’an. Kemudian kak Fachri membuka kajian, terlebih dahulu ia menannyakan kabar para adik-adiknya. Mereka pun menjawab bermacam-macam.

                “Aduh, kakak kan cuma nanyain kabar. Kenapa jadi pada curcol alias curhat semua ini?”

                Mentor memang sudah seperti orang tua ke tiga bagi anak rohis setelah orang tua kandung dan guru. Tak jarang anak-anak rohis mencurahkan isi hatinya kepada mentornya. Dari beberepa curhatan yang sedikit membuat kericuhan mendadak ini, ada yang satu yang menarik perhatian sang mentor. Yaitu keluhan Farhan tentang sulitnya ia belajar seperti teman-temannya yang pintar.

                “Nah, kebetulan ada yang curhatannya sama dengan materi kita minggu ini nih. Yaitu tentang kesulitan dalam belajar.”

                Kericuhan mendadak menjadi terhenti seketikan setelah kak Fachri berbicara dan mangatakan judul materi kajiannya minggu ini.

                “Adik-adikku, untuk dapat belajar dengan baik pertama-tama yang harus kita perhatikan adalah niat kita saat pergi ke sekolah. Selama ini kan banyak yang berniat yang lain-lain tuh, ada yang niat ke sekolah buat pacaran, ada yang niat cuma buat nongkrong sama teman-teman dan segala macam niatan lainnya. Nah kita sebagai pelajar yang baik niatkan lah pergi sekolah itu benar-benar untuk belajar sebagai bentuk usaha kita dalam menggapai ridho Allah swt. Maka semua hal yang kita lakukan di sekolah akan menjadi amal ibadah. Bahkan kita akan selalu didoakan serta diberi naungan dengan sayap para malaikat. Yang kedua cara belajar kita harus sungguh-sungguh, jangan setengah-setengah.”

                Setelah materi disampaikan panjang lebar, Farhan yang sempat disebut kak Fachri memiliki masalah yang sesuai dengan kajian minggu ini dipersilahkan untuk berbicara.

                “Begini kak, ane kan seumur-umur gak pernah dapat juara kelas. Paling tinggi juga Cuma dapat rangking tujuh waktu kelas tiga SD. Meskipun begitu ane selalu berusaha keras untuk bisa belajar tapi kenyataannya tetap gak bisa. Sementara teman-teman yang lain yang emang pintar dari sononya. Belajarnya nyantai-nyantai aja, tapi dapat gelar juara. Ane mulai frustasi dengan keadaan ini, apakah orang yang bisa pintar itu hanya orang-orang tertentu berasarkan warisan gen orang tuanya kak?”

                “Begini Farhan, pertama yang harus Farhan ketahui, bahwa Allah menilai pekerjaan orang berdasarkan usahanya bukan hasilnya. Kalau Farhan sudah berusaha maksimal tapi hasilnya masih belum juga, setidaknya Farhan udah dapat pahala di sisi Allah. Nah yang kedua, kakak tidak menampik adanya orang-orang yang udah pintar daari sononya, entah karena gen atau hasil didikan orang tuanya sejak dini. Tapi ketahuilah bahwa semua itu bisa kita atasi bahkan kita kalahkan jika kita mau menjadi anak yang rajin.  kakak certain sebuah kisah teladan deh yah, gini.

                Alkisah, ada seorang anak yang sangat sulit memahami pelajaran di kelasnya, dia bahkan bisa dikatakan sebagai anak paling bodoh di kelas. Keadaan itu sungguh membuatnya stress dan kesal pada diri sendiri. Sampai akhirnya ia memutuskan untuk pergi dari sekolahnya.

                Di perjalan keluar dari sekolah, ia terus mengutuki dirinya yang sangat bodoh. “Aku sudah tidak tahan lagi dengan semua ini, semuanya percuma, memang sudah nasibku menjadi orang bodoh yang tak berguna. Beginilah nasib orang bodoh , menderita, tidak bisa mengerti apa-apa…”. Ditengah perjalanan pergi dari sekolah, ia  memutuskan untuk beristirahat di pinggir sebuah sungai. Sambil terduduk lemas, ia pandangi seluruh sudut sungai itu, sampai akhirnya ia melihat sebuah pemandangan yang menakjubkan. Ya pemandangan yang menyadarkannya bahkan merubah kehidupannya. Anak ini melihat sebongkah batu hitam besar yang berlobang di tengahnya. Lobang itu terbentuk tak lain dari sebuah tetesan air yang selalu terus menerus jatuh menimpa batu besar itu.

                Melihat kejadian yang terjadi pada batu besar itu, sang anak kemudian tersadar akan satu hal. Ya, batu hitam nan besar saja dapat berlobang oleh tetesan-tetesan air yang terus menerus menjatuhinya. Kita tentu saja juga bisa seperti itu. Sebodoh atau sedungu apapun kita, jika kita berusahan belajar terus menerut tanpa lelah dan tanpa mengenal putus asa seperti tetesan air itu. Kita tentu bisa menjadi orang yang cerdas dan berprestasi.

………………………………………………………..

eits! sampai di situ dulu yah.selebihnya silahkan lihat di buku Penjaga Jalan Ke Mesjid. order bisa di link http://nulisbuku.com/books/view/penjaga-jalan-ke-mesjid atau bisa dengan mengirim email ke saya di Fauzild.dean@gmail.com atau langsung ke admin@nulisbuku.com dengan menyertakan nama, alamat, nomor hp dan judul buku yang dipesan.

 

Image

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s