Cerpen: Berujung Pelaminan

“Saya faham, akhi. Tapi kalo semuanya tidak dilakukan sekarang kapan lagi kita akan merubah sesuatu, Islam butuh tindakan cepat dibandingkan hanya wacana dan teori. Semua orang sudah sangat pandai berteori sekarang ini tapi mana pelaksanaannya? Rakyat Indonesia masih tetap saja terlantar, kalau bukan kita siapa lagi yang akan menolong saudara seiman kita?” Fathima berapi-api.

Tim sosial sebuah remaja masjid sedang bersemangat mengadakan baksos yang akan diadakan di sebuah tempat yang berada di Puncak, Bogor. Targetnya adalah Islamisasi, jadi bukan sekedar pembelajaran dan bantuan tapi yang lebih penting adalah perubahan untuk mereka menjadi Islam sesungguhnya. Konsekuensinya dakwah harus dilakukan kontinyu setelah baksos perdana dilaksanakan.

“Saya tidak berusaha untuk mengumbar teori, hanya saja saya sebagai ketua panitia harus memperhatikan kendala-kendala yang akan teman-teman hadapi nantinya. Saya tidak ingin teman-teman mendapatkan kendala yang terlalu besar dan berbahaya karena medan disana tidak seperti lingkungan kita disini. Mohon difahami.” Suara Fahri meninggi.

Suasana hening sejenak mendengar dialog antara ketua panitia pelaksana baksos dan tim acara yang akan dilaksanakan di Telaga Biru. Fahri masih terlihat berusaha untuk menenangkan diri mendengar penjelasan Fathima panjang lebar. Tapi ia terlihat berusaha untuk mengerti.

“Siapa yang bisa stand by di sana?” Tanya Fahri.

“Saya tentunya akan bertanggung jawab atas ucapan saya sendiri.” Fathima menjawab agak ketus.

“Saya tidak memaksa, lho, ukhti.” Fahri menegaskan.

“Saya tidak pernah merasa di paksa ataupun terpaksa untuk berdakwah. Semua saya lakukan atas kesadaran saya sendiri. Adapun kendala-kendala yang saya akan hadapi nanti, itu akan menjadi tanggung jawab saya.” Fathima menundukkan kepalanya, terlihat ia menahan tangis.

Fahri terlihat tenang mengendalikan jalannya Syuro, tampak anggota yang hadir memahami ketegangan yang terjadi.

“Sudah, mending kita cukupkan sampai disini saja dulu. Besok kita bahas lagi ketentuan berlakunya, supaya semuanya bisa berfikir dulu. Ayo Fahri di tutup dulu, sudah nduk, jangan cemberut aja, Fahri bermaksud baik memikirkan nasib kita semua.” Anto yang paling tua diantara mereka mengingatkan.

“Iya, sebaiknya kita lanjutkan dilain waktu. Sudah kalian berdua jangan tegang gitu, nanti jodoh, lho.” Celetuk Lani yang paling muda dan polos. Spontan semua menoleh ke arah Fathima dan Fahri dan si empunya kalimat dengan kepolosannya tak menghiraukan keheranan yang timbul.

Bagaimana tidak, Fathima dan Fahri tidak pernah sependapat dalam banyak hal, selalu ada pertentangan dalam setiap diskusi yang mereka lakukan baik jama’ah maupun individu, ini sering mereka lakukan karena mereka orang yang sama-sama penting dalam struktur organisasi. Tapi kami harus akui mereka adalah orang yang sangat berpengaruh di sini, ide-ide dan keberaniannya dalam berdakwah membuahkan hasil-hasil yang baik dan signifikan. Kami sering berangan-angan seandainya semua anak muda yang ada di Negara kita tercinta ini memiliki mental seperti mereka, subhanallah, alangkah indahnya Negara ini akan menjadi.

Tapi, ya, kami baru ada pada barisan paling belakang. Tahap pembelajaran, semoga mereka menjadi bibit-bibit yang unggul karena mereka dibutuhkan.

Esoknya mereka berdua sudah stand by di tengah arena. Semua sudah siap seperti biasa, tikar, alat tulis, materi yang akan dibahas termasuk makanan cemilan untuk melerai kelelahan dikala malam sudah mulai larut. Mereka terlihat asyik berbincang, entah apa yang diperbincangkan tapi terlihat tak biasa mengingat Fathima sangat menjaga sikapnya di depan ikhwan tapi kali ini terlihat bisa tertawa renyah, terlebih dengan Fahri, sangat mengagumkan.

Anto yang sedari tadi sudah tiba memperhatikan dengan gaya cueknya, sebuah apel merah dalam genggamannya, asyik menikmatinya tanpa mengalihkan pandangannya sedikitpun dari kedua insan yang nampaknya dikaruniai kelebihan dalam berdakwah ini. Setelah beberapa orang berkumpul, Antopun bergabung.

Anto yang dimanahi untuk memimpin syuro hari itupun bersegera melaksanakan tugasnya. Setelah pembukaan, ia lalu merunut acara yang akan dilaksanaka, “Alhamdulillah kemarin kita sudah dapat menyelesaikan pembicaraan kita sampai kepada keputusan siapa yang akan stand by di tempat. Semoga Allah memberikan kemudahan atas apa yang akan kita lakukan hari ini. Nah, kita mulai dengan tim logistik. Tafadhol, dik Lina.”

“Assalamualaikum, semua. Semoga semua sehat dan selalu dalam lindungan Allah. Ada beberapa hal yang perlu saya sampaikan. Pertama, Insya Allah semua kebutuhan mengenai logistik baik ditempat dan diperjalanan sudah lengkap, termasuk obat-obatan dan perlengkapan shalat bagi akhwat. Yang perlu saya tahu sekarang, bagaimana kita akan mengangkut semuanya. Apakah akan menggunakan mobil sendiri atau menggunakan angkutan. Jujur jika akan menggunakan angkutan akan sedikit merpotkan mengingat barang yang akan dibawa banyak sekali.” Lani mengungkapkan.

“Insya Allah saya bersedia untuk menyediakan angkutan.” Fathimah menginformasikan. “Paling tinggal siapa yang akan membawa mobilnya saja.”

“Kalau begitu Fahri saja. Sekalian silaturahmi ke keluarga Fathima.” Jelas Anto dengan cueknya. Semua mata mengarah ke Fahri, Anto dan Fathima, lalu semua diam. Anto berusaha mengembalikan fokus teman-temannya yang sempat beralih, dari sudut matanya Anto melihat Fathima berusaha menyembunyikan air mukanya dari pandangan teman-temannya.

Hari ini syuro berjalan mulus tanpa ketegangan. Besoknya mereka berkumpul di sekertariat untuk lalu pergi ke lokasi. Membutuhkan waktu sekitar dua hingga tiga jam menuju kesana.

“Seperti yang telah kita sepakati, siapapun yang terlambat walau hanya satu menit akan kita tinggal.” Fathima mengingatkan.

“Apa tidak sebaiknya difikirkan ulang, ukhti? Kita juga harus memahami kondisi mereka yang mungkin dalam kesulitan.” Fahri menyanggah.

“Kalau kondisinya begitu, sebaiknya tinggal di tempat saja.” Fathima menjawab.

“Keras kepala!!” Fahri menggumam.

Tak disangka ternyata Fathima mendengar gumaman Fahri. Tentunya Fathima tak tinggal diam, ia langsung menyerang, “Saya minta ma’af tapi kita harus tegas dalam penegakan disiplin. Bagaimana Negara ini akan maju jika kondisi kita terus seperti ini. Tidak pernah mau menegakkan disiplin. Kalau begitu saya tidak akan ikut campur.” Ia lalu pergi meninggalkan kerumunan.

“Berantem lagi.” Lani bergumam lalu menyusul Fathima ke ruang sekertariat.

“Fathima ada baiknya, untuk kasus ini, saya anjurkan untuk mengikuti caranya karena apa yang ia lakukan adalah baik.” Anto menepuk bahu Fahri.

Akhirnya rombongan berangkat dengan menggunakan bis dibuntuti mobil bak dibelakang mereka membawa perlengkapan yang akan disumbangkan. Mereka akan menginap selama dua hari disana. Seperti kesepakatan Fathima akan tinggal disana dua minggu untuk berdakwah mengajarkan kebiasaan baik lalu diikuti teman-teman lainnya secara bergiliran. Mereka berdo’a semoga dakwah mereka dapat berkembang kontinyu.

Sebelum pulang, Anto mendekati Fathima, “Ukh, ini ada titipan satu amplop coklat dari seseorang. Semoga ukhti berkenan untuk mempelajarinya.”

Fathima diam tak bergeming. Ia menerima amplop itu tanpa kata. Semua berpamitan meninggalkan Fathima yang akan bertugas dua minggu disana. Secercah harapan menyinari ikhwan akhwat itu dengan segala optimismemereka akan pengembalian peradaban Islam yang sempat terkoyak oleh waktu, mereka memanjatkan do’a.

Malam begitu hening, ditemani lampu minyak Fathima membuka amplop yang dititipkan Anto kepadanya. Terlihat disana sebuah judul “Proposal Nikah” dengan nama Fahri Abbas, kelahiran Malang, 13 Maret 1985.

Fathima lalu bersujud kepadaNya memohonkan petunjuk. Setelah beberapa hari, ia lalu memberitahu kedua orang tuanya bahwa seorang ikhwan yang mereka kenal telah mengajukan proposal nikah. Pada SMS terakhirnya ia mengatakan, “jika Ayah dan Ibu berkenan dan memang saatnya untuk Ima, begitu ia dipanggil dirumah, sudah pantas menikah, Insya Allah Ima siap.

Tak ada kabar balasan dari mereka. Iapun menjalankan aktivitasnya seperti biasa tanpa beban apapun. Tanpa sedikitpun gangguan karena ia tengah fokus pada dakwah billahnya.

Hari kepulangan hampir tiba, Fathima bersiap-siap menanti kedua orang tuanya menjemput. Jam sepuluh pagi ia melihat mobil yang dikenalnya. “Tapi, kok, kenapa terlihat penuh?” Gumamnya. “Ada Anto juga.”

Mobil melaju dengan cepat, kedua orang tua Fathima sibuk berbicara dengan kedua orang tua Fahri yang ikut menjemput. Akhirnya pembicaraan terkumpul kepada satu pertanyaan sederhana untuk Fathima, “Kamu sudah siap nikah, nak?” Ayah Fathima bertanya. Fathima menunduk sedalam-dalamnya menyembunyikan senyum yang merekah pada bibirnya.

Ayah menelfon rumah dan meminta orang-orang di rumah menyiapkan makanan sederhana seadanya. Fahri yang sedari tadi menunggu di rumah Fathima turut sibuk menyiapkan segalanya sambil menunggu mereka tiba. Ustadz Akbar dipanggilnya sesuai pesanan Ayah Fathima.

Setelah rombongan tiba, Fathima langsung dikirim ke kamarnya dan diserahkan kepada perias yang sedari tadi menantinya. Beberapa waktu kemudian dilangsungkanlah pernikahan agama antara Fathima dengan Fahri.

“Barakallahu alaikuma…” Ucap Ustadz Akbar mengakhiri upacara.

“Tuh, kan, jodoh!!” Lani berkelakar.

*salinan dr status teman*

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s