menyikapi kegalauan hati

Ada trend populer baru di kalangan anak muda saat ini, yaitu memamerkan kegalauan hatinya di situs jaringan social dan tempat lain, bahkan kegalauan ada yg dilombakan. Kerap kali mereka merasa bangga atas kegalauan tersebut. ya, bangga karna udah mengikuti trend terbaru.

Pada hakikatnya situs jaringan sosial adalah tempat bersilaturahmi dan berkonsolidasi. namun pada perkembangannya situs ini menjadi tempat untuk berekspresi secara liar.
Seperti trend ekspresi pd saat ini bergalau ria yg kebanyakan hanya bersifat mengeluh, meratap, menyerah bahkan memaki.

Sesungguhnya sah-sah saja kita berekspresi di manapun, termasuk bergalau ria. Namun kita harus pandai2 membatasi kegalauan hati kita, termasuk memilah apa yg akan dibeberkan ke depan umum. Karena jika tidak, kegalauan itu akan bersifat berlebihan. Seperti kita ketahui bahwa Allah SWT tidak menyukai orang2 yg berlebihan. Mengapa Allah tidak menyukai yang berlebihan? Ya karena seperti yg dikatakan Mario Teguh “sesuatu yang berlebihan akan bersifat mengurangi” bahasa islamnya “memberikan mudharat”. Efek dari berlebih-lebihan bisa menjadikan kita lalai, membuat orang lain tidak nyaman, dan pada kasus kegalauan bisa saja kita tanpa sengaja membongkar aib kita sendiri ke hadapan umum.

Hal lain yg masuk dalam kategori berlebihan adalah berkomentar seperti tidak terima pada banyak hal yg ditemui. curah hujan yg tinggi saat ini adalah sasaran yg paling banyak dimaki secara tidak langsung oleh status galau, padahal hujan itu adalah rahmat, sungguh bodoh orang yg tidak mau diberi rahmat. Kita hanya perlu melihat dari sisi yg lain terhadap hal2 yg sulit kita terima, temukanlah,pasti ada hikmah dibalik semuanya. Hingga kita dapat senantiasa bersyukur atas segala hal yg diberikan Allah pada kita🙂

Jadi coba kita pilih2 lagi kalimat untuk status galau kita, jika galaunya ingin curhat janganlah bersifat menghujat, apalagi sampai menghujat keadaan, karena sama saja kita sedang menghujat Allah. Jika galaunya hanya ingin cari perhatian janganlah sampai berlebihan.

Terakhir, hal2 mubah seperti situs social ini adalah bagaikan pisau bermata dua. Ya, sisi tajamnya hanya dua, jika kita tidak mengarahkannya untuk sesuatu yg bermanfaat, maka orang lainlah yg akan mengarahkannya pada sesuatu yg membawa mudharat yg akan “menikam kita”

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s