Ambisi

Seumur hidup rasanya tidak pernah se ambisius ini, terobsesi menjadi pengusaha teknologi pendidikan. Sebuah pilihan hidup yg awalnya tidak sengaja dan tidak disangka

Berawal dari pekerjaan yg saya geluti sejak kuliah. berkat integritas dan hubungan baik yg saya bina dgn pemilik usaha tersebut akhirnya setelah lulus saya dipercaya mengelola usahanya. Disinilah awal mula hal yg tidak pernah saya bayangkan sebelumnya: menjadi enterpreneur

Menjadi BOS, Siapa sih yg gak mau? Apalagi ditunjang dengan segala kemudahan beraktifitas. Tapi, ada satu hal yg terlewat, MATERI. lho kok bos g punya materi? Nah ini, bos itu gak ada yg gaji, dia menggaji diri sendiri

Sekitar 4 bulan lagi saya genap 2 tahun mengendalikan usaha ini. Sampai saat ini belum banyak gaji yg bisa saya berikan utk diri sendiri, apatah lagi utk org lain. Hanya satu hal yg membuat saya bertahan: ambisi

Ambisi ini lahir krn saya melihat dgn mata kepala sendiri bgmn org2 seprofesi dgn saya meraih kesuksesan, ditambah lagi dgn semua prospek yg ada, gemes rasanya kl gak nempuh jalan ini

Apalagi ini mgkn pertamakalinya saya menentukan jalan hidup sendiri. Sebelumnya saya terus terpaksa mengikuti keinginan org lain yg selalu meragukan saya juga tak pernah menghargai saya. Hasilnya hidup saya selalu menderita

Meski menjalani hidup berdasarkan pilihan sendiri rasanya jg cukup menderita, tp saya ttp bangga, krn ini pilihan sendiri, bukan lg terpaksa mengikuti keinginan org lain. Menderita di sini hanya sebuah proses, asal ttp fokus pada pilihan, kesuksesan kan didapat.

Akan tetapi, saya sebagai manusia biasa selalu memiliki batas, jika mempertahankan ambisi tanpa mendapatkan komisi dalam hitungan bulan mungkin masih masuk akal, namun dalam hitungan tahun? pada di titik itu mungkin akan dipertimbangkan untuk menjadi pengusaha mungkin bukan cuma tentang usaha, tetapi juga soal bakat dan keberuntungan. Dengan kata lain, jika dalam kurun waktu tahunan saya belum berhasil, mungkin saya memang tidak berbakat untuk menjadi pengusaha dan tidak cukup beruntung.

Empat bulan menjelang saya genap dua tahun berada di sini, saya sudah semakin dekat ke persimpangan jalan, meski telah lama berusaha, berkorban harta, tenaga dan fikiran, pada akhirnya jalan itu akan menentukan arahnya sendiri, jika sudah tersentuh sedikit hawa kesukses itu, tentu saya akan bertahan, tetapi jika tidak, tidak ada salahnya mencoba jalan lain.

Iklan