Merencanakan dakwah Yang Efektif

Berdakwah adalah salah satu pekerjaan terberat di dunia, selain harus berurusan dengan hati manusia juga harus berhadapan dengan bisikan-bisikan syaithon yang sangat lihai dalam membujuk. Oleh karena itu dalam berdakwah haruslah memiliki strategi yang jitu. Mulai dari cara berdakwah, pengorganisasian dakwah sampai pemberdayaan sumberdaya dakwah.

1.Cara berdakwah

Cara berdakwah haruslah halus, karena tidak ada satupun orang yang mau menerima cara-cara kasar meskipun iya tahu sedang diajak kepada kebenaran. Rasulullah saw, sendiri adalah orang yang paling lembut yang ketika memandang wajahnya digambarkan sahabat bak rembulan di malam hari, yang ketika bercengkrama dengannya serasa kitalah orang yang paling dekat dengannya.

2.Pengorganisasian dakwah

Dakwah haruslah terorganisir, sebab lawan dari dakwah sendiri saat ini telah terorganisir dengan sangat baik. Apalagi kita pernah mendengar suatu kata bijak yang menyebutkan kebaikan yang tidak terorganisir akan mudah dikalahkan oleh kejahatan yang terorganisir. Jangan pernah mencoba untuk menjadi Rambo dalam dunia dakwah, sebab anda tidak akan kuat menjalaninya. Pendakwah yang baik adalah dia yang mampu mengkader orang lain untuk kemudian mendistribusikan tugas-tugas dakwah yang sering kali sangat banyak. Banyak pendakwah yang terjebak sindrome “aku orang hebat” sehingga mengambil semua jatah dakwah, ingin tampil di setiap kesempatan bahkan hingga membuat organisasi dakwahnya terjebak pada figuritas. Resiko hal ini akan sangat besar baik bagi kelanjutan dakwah ke depan maupun bagi diri sendiri jika suatu saat beban dakwah semakin banyak hingga melebihi kemampuan diri. Hasrat untuk selalu tampil harus dibendung, cukuplah Allah sebagai penilai kita, bukankah dengan mengkader lalu mendistribusikan beban dakwah juga mengalirkan pahala dakwahnya kepada kita?

Pengorganisasian dakwah harus meliputi pengkaderan dan pembagian peran. Kader penting untuk kelanjutan dan ekspansi dakwah. Pembagian peran penting agar dakwah terdistribusi kepada semua golongan, tidak semua orang bisa antusias mendengar ceramah sekalipun disampaikan oleh seorang da’I kondang, maka harus ada pendakwah yang tidak tampil terlalu alim dan bahasanya tidak terlalu jaim agar mampu berinteraksi dengan cair kepada target dakwah tertentu.

3.Pemberdayaan sumberdaya dakwah

Ada banyak sekali sumberdaya dakwah, seperti da’i, sarana dan prasarana dakwah seperti mesjid dan mushalla, juga ada sumberdaya dakwah yang kerap kali dikesampingkan oleh beberapa jama’ah dakwah, yaitu peran ibu-ibu. Padahal ibu-ibu memiliki jadwal kajian yang lebih intensif dibanding bapak-bapak dan remaja. Semua itu harus dimaksimalkan dengan mengaktifkan kembali yang sudah vakum, membentuk yang belum terbentuk sampai membuatnya hidup dengan kajian-kajian yang berkualitas dan berkesinambungan. Da’I juga harus diupgrade kemampuannya, usahakan memiliki kemampuan khusus dibidang keilmuan tertentu dalam kajian islam yang sangat luas.